Sabtu, 02 Agustus 2014

Nats : 1 Samuel 13 : 1-22 BELAJAR TAAT  

Sebagaimana nats alkitab yang baru kita baca dan tema dari almanak hari ini yaitu “belajar taat”, terdapat sebuah kata yang menarik untuk menjadi renungan kita pada hari ini yaitu “taat”. Secara universal atau umum, kata taat itu mengandung pengertian yaitu tunduk atau patuh terhadap suatu peraturan, atau perintah, ataupun ketentuan yang ada, dan mau untuk melakukannya. Ketaatan terhadap suatu peraturan ataupun perintah akan memberikan suatu hasil yang positif, sedangkan ketidak taatan akan mendapatkan hasil yang negatif berupa suatu sanksi ataupun hukuman. Melanggar aturan atau perintah yang berlaku adalah suatu bentuk ketidak taatan yang akan menghasilkan suatu hukuman. Contoh sederhananya adalah seorang pekerja yang tidak masuk kerja tanpa izin akan menerima hukuman berupa surat peringatan dan pengurangan gaji, dan malah dapat di PHK apabila tidak masuk kerja selama beberapa hari berturut2. Atau kalau seorang murid sekolah terlambat masuk sekolah, mungkin akan mendapat hukuman tidak diizinkan masuk sekolah atau diberikan sanksi disiplin lainnya.  Tetapi kalau seorang jemaat sering tidak bergereja, sampai sekarang ini belum ada hukumannya, tapi yang pasti hukumannya dari Tuhan.   Demikian juga dengan nats yang baru kita baca tadi, adalah tentang ketidak taatan Saul, yang menceritakan bahwa ketika Saul menjadi Raja Israel, ia memimpin bangsa Israel untuk berperang melawan bangsa Filistin di Gilgal, tetapi pada waktu itu bangsa israel sangat ketakutan melihat pasukan bangsa Filistin yang telah berkumpul untuk berperang yang sangat banyak jumlahnya yaitu tiga ribu kereta, enam ribu pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut, sedangkan pasukan bangsa Israel hanya berjumlah tiga ribu orang.  Karena kalah jumlah, sebagian orang Israel lari dan bersembunyi dan sebagian lagi merasa ketakutan dan berserak2 meninggalkan Saul. Sebagai Raja Israel yang melihat kondisi rakyatnya sudah panik, ketakutan dan lari bersembunyi meninggalkannya, selain itu juga khawatir bangsa Filistin akan segera menyerang, sedangkan Nabi Samuel belum juga datang, Saul lalu mengambil kebijaksanaan untuk memohon keselamatan dari Tuhan untuk mempersembahkan korban bakaran. Perlu kita ketahui bahwa sebelumnya Nabi Samuel telah menyatakan hal ini kepada Saul, (dapat kita lihat dalam 1 Samuel 10 ayat 8 : “Engkau harus pergi meninggalkan aku dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamua apa yang harus kamu lakukan”. Tetapi Saul tidak sabar untuk menunggu kedatangan Nabi Samuel sehingga Ia mengambil alih tugas Nabi Samuel untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan, walaupun ia tahu bahwa tindakan yang dilakukannya adalah pelanggaran firman Tuhan. Ketidak taatan Saul ini  membuat Nabi Samuel marah dan berkata kepada Saul sebagaimana tertulis dalam  (1 Samuel 13 : 13-14). Tadinya Tuhan akan mengokohkan kerajaan Saul atas orang Israel untuk selama2nya, tetapi karena ketidak taatan Saul, Tuhan menghukumnya dengan membuat kerajaannya menjadi tidak tetap dan Tuhan akan memilih seseorang untuk menggantikan Saul. Ada beberapa alasan penyebab ketidak taatan Saul yang dijadikannya sebagai dalih kepada Samuel : 1. Kondisi terdesak oleh karena pasukan Filistin sudah menyerang, sehingga rakyatnya ketakutan dan mulai berserak2. 2. Tidak Sabar, menunggu kedatangan Nabi Samuel sehingga dia meragukan perkataan Nabi Samuel yang merupakan firman Allah   Tidak jarang Alasan2 yang dipergunakan Saul tersebut kita gunakan dalam kehidupan sebagai alasan Ketidak taatan kita kepada terhadap firman Tuhan. Seperti misalnya : -kondisi terdesak masalah ekonomi, yang membuat kita harus mencari nafkah habis2an, sampai2 tidak ada waktu untuk beribadah kepada Tuhan sering kita gunakan sebagai alasan ketidak taatan kita pada firman Tuhan. -tidak sabar untuk menunggu pertolongan dan jawaban dari Tuhan atas suatu pergumulan kita baik itu suatu permasalahan ataupun penyakit yang diderita, sehingga kita mungkin mencari penyesaian atau jalan keluar sendiri atau bahkan mengandalkan kuasa gelap untuk menyelesaikannya. Dan masih banyak lagi contoh2 tentang alasan2 ketidak taatan yang ada di sekitar kita atau yang kita alami sendiri dalam kehidupan masing2. Sebenarnya kita tahu bahwa yang kita lakukan adalah bertentangan dengan firman Tuhan tetapi karena alasan kondisi terdesak dan tidak sabar, membuat kita melegalkan semua cara yang tidak disukai oleh Tuhan. Dan disaat kita kehilangan kendali, kita akan mulai berkompromi dengan dosa.   Firman Tuhan yang baru kita baca mengingatkan kita semua termasuk saya, supaya kita belajar untuk taat setiap waktu dalam segala hal, tanpa mencari2 alasan yang membuat kita merasa wajar untuk melanggar firman Tuhan, dan hendaknya kita selalu waspada sebab Iblis selalu berusaha untuk membuat kita tidak taat pada firman Tuhan.  Belajar taat merupakan alasan bagi orang percaya untuk senantiasa kuat di dalam kesabaran untuk menantikan pertolongan Tuhan ketika menghadapi situasi sulit dalam hidup.          Amen.      

RENUNGAN KHOTBAH (Roma 11 : 13-24)  

Bapak/Ibu jemaat yang dikasihi dalam Yesus Kristus, Dalam Surat ini , Rasul Paulus menuliskan suatu pemahaman bahwa Bangsa Israel yang mengklaim diri mereka sebagai umat pilihan Allah, telah menolak janji keselamatan dalam iman melalui Yesus Kristus. Penolakan Israel ini membuat berita keselamatan injil tersebar kepada bangsa2 lain yang bukan Yahudi, sehingga kabar keselamatan tersebut sekarang bukan hanya berlaku pada umat pilihan Allah (Bangsa Yahudi), tetapi untuk semua bangsa di dunia yang mau menerimanya. Ini merupakan pelajaran keras yang diberikan oleh Allah kepada Bangsa Israel, dimana Allah menjadikan pelayanan penginjilan Paulus di kalangan orang bukan Yahudi berhasil, sehingga orang Yahudi yang menolak Injil boleh mengalami kecemburuan menyaksikan begitu besarnya limpahan berkat dan anugerah Allah atas orang2 yang dulunya tidak kenal Allah. Paulus sebagai seorang Yahudi berharap bahwa keberhasilan pelayanannya dikalangan orang bukan Yahudi itu akan menimbulkan kesadaran bagi orang2 sebangsanya tentang kerugian yang mereka tanggung dan akhirnya akan mendorong mereka menyambut berkat Allah nantinya. Dalam ayat 16-20, Paulus juga mengumpamakan bangsa Israel itu dengan Pohon zaitun yang memiliki akar dan banyak cabang2 pohon yang seharusnya dapat memberikan dampak positif bagi bangsa2 lain melalui kesaksian iman mereka. Namun nyatanya mereka gagal memberikan dampak tersebut dan malah menolak janji keselamatan yang diberitakan oleh injil.  Itulah sebabnya allah untuk sementara waktu mematahkan cabang2 pohon zaitun sejati yang menggambarkan bangsa Yahudi (Israel) dan mencangkokkan bangsa2 lain yang diumpamakan sebagai pohon zaitun liar untuk dapat menerima berkat daripada janji Allah. Paulus juga mengingatkan, bahwa sudah sepatutnya jika bangsa2 lain di luar Yahudi, agar tidak menjadi sombong karena kemurahan Allah ini. Sebab jika Israel saja, yang diibaratkan sebagi cabang asli oleh Paulus, dapat dijatuhi hukuman oleh Allah atas ketidak taatan mereka, apalagi bangsa lain yang diibaratkan tunas liar oleh Paulus. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari surat Paulus dalam Roma 11 : 13-24 ini, antara lain : 1. Allah tidak akan berubah dalam ketetapan dan kebenaranNya, bahkan  umat pilihanNya yaitu bangsa Israel yang menolak anugerah dalam Kristus harus menanggung akibat yang mengerikan berupa kebinasaan dan akan memangkas mereka dari Pohon zaitun yang Asli. 2. Allah memberikan kesempatan bagi bangsa2 di luar Yahudi untuk menerima berkat anugerah keselamatan yang dijanjikanNya melalui Yesus Kristus, yang berarti ada peluang bagi bangsa2 lain termasuk kita sebagai umat Kristen di Indonesia yang diibaratkan telah dicangkokkan kepada pohon zaitun yang asli, sehingga kita akan menerima limpahan berkat anugerah daripada Allah. 3. Kita harus menghargai peluang dan kemurahan dari Allah ini, dengan mau sungguh2 bertobat (dari kehidupan pohon zaitun liar) dan menerima anugerah berkat yang telah diberikan Allah untuk melakukan pelayanan kepada orang lain. Bapak/Ibu Jemaat yang dikasihi dalam Yesus Kristus, Allah telah memberikan kesempatan yang sama bagi kita untuk menerima anugerah keselamatan seperti halnya umat pilihan Allah yaitu Bangsa Israel, dan tidak ada lagi perbedaan antara kita dengan umat pilihan Allah. Semua bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk menerima berkat keselamatan. Oleh karenanya mari kita membuka hati kita dengan menerima secara penuh berkat keselamatan yang telah dijanjikan oleh Tuhan melalui pertobatan yang sungguh2 dan melakukan pelayanan yang benar di dunia ini. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk melayani dan menjadi pelaku2 firmanNya. Namun sekalipun demikian kita tidak boleh memegahkan diri karena menerima berkat anugerahNya, karena yang patut menerima pujian hanyalah Tuhan yang telah memberikan kesempatan dan anugerah untuk semua bangsa-bangsa..... Amen

Khotbah Minggu, 23 Maret 2014 Nas : Lukas 4:25-30 Thema  : Percaya Itu Indah


Pendahuluan Ketika saya membaca thema ini, maka muncullah pertanyaan dalam hati saya: mengapa percaya itu dikatakan indah? Apa sih keindahannya jika percaya? Saya yakin Bapak, ibu sekalian juga sedikit banyak pasti bertanya dalam hatinya seperti pertanyaan saya tersebut.. Semua orang pasti suka keindahan, sebab indah itu menurut saya masih berbeda dan masih lebih baik dari pada cantik. Sesuatu dikatakan indah jika ia terlihat cantik,anggun,menarik,dan tidak membosankan bila kita terus melihatnya. Yang pasti sesuatu itu disebut indah jika ia punya keunikan tersendiri. Nah, sekarang kita akan melihat dimana letak indahnya cerita Firman Tuhan yang kita baca hari ini. Percaya yang seperti apakah yang indah itu.? Cantik saja belum tentu indah, sebab ada yang cantik tapi membosankan. Indah memiliki pesona tersendiri dan itu jugalah mungkin sehingga ada beberapa orang tua yang sengaja membuat nama anaknya dengan sebutan “indah”, ternyata indah itu sempurna. Lalu mengapa thema kita hari ini berkata: “percaya itu indah”, dimana sih keindahannya..Dimana keindahan Firman Tuhan yang kita baca ini??itulah yang akan kita dengar lewat Firman Tuhan hari ini. Tafsiran Potongan nas Firman Tuhan ini sebenarnya harus dibaca dari ayat 1- 42, sebab jika kita hanya membaca ayat 25-30 akan sangat sulit untuk memahaminya. Dalam cerita Lukas pasal 4 ini, Lukas mengangkat bahwa dalam pelayanan yang dilakukan Yesus, ia pernah berbicara dengan guru Yahudi yang bernama Nikodemus (pasal 3) dan ia juga pernah berbincang dengan perempuan Samaria. Bagian yang kita baca hari ini adalah potongan percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub. Saudara disinilah kita melihat keindahan-keindahan dari narasi ini ; 1.       Dalam adat Yahudi seorang laki-laki Yahudi biasanya tidak mau berbicara dengan seorang perempuan,apalagi itu adalah seorang perempuan samaria. 2.       Ada ketidakcocokan antara orang Yahudi dengan samaria dalam hal keagamaan dimana orang Yahudi menyembah Tuhan dibait Allah(Yerusalem) sedangkan orang samaria menyembah Tuhan di Gunung Gerizim 3.       Orang Yahudi merasa diri merekalah keturunan Israel dan diluar mereka tidak ada anak Allah. Merekalah yang memiliki Tuhan Allah itulah sebabnya Nikodemus tidak mengerti arti lahir kembali yang dimaksud oleh Yesus dalam percakapan mereka (pasal 3;3) 4.       Ada satu dosa yang memalukan bagi bangsa Yahudi, yaitu perzinahan. Dalam cerita ini seolah-olah Yesus tidak tahu bahwa perempuan Samaria ini adalah seorang perempuan yang tidak benar padahal ia sudah punya 5 suami yang tidak jelas statusnya dan Yesus terlibat percakapan yang serius dengannya. Jadi mengapa semua ini bisa dilakukan oleh Yesus, sehingga seolah-olah ia melanggar adat Yahudi? Bapak/ibu,sdr/i, sebenarnya ada percakapan yang sangat alot antara Yesus sengan perempuan samaria itu, ketika Yesus melintasi daerah Samaria itu menuju Galilea. Perempuan itu hendak mengambil air di sumur dan Yesus sedang keletihan dan meminta air yang ditimba perempuan itu. Cerita mereka kemudian berlanjut sebab Yesus mengatakan bahwa padanya ada air hidup yang jika orang mengambilnya maka mereka tidak akan haus lagi. Ungkapan air hidup ini sangat menarik hati perempuan itu dan ia ingin memintanya agar jangan susah-susah lagi mengambil air dari sumur Yakub itu. Ayat 25-26: Dua ayat ini menceritakan bahwa perempuan itu ternyata juga percaya akan Mesias dan sedang menantikannya. Ia memang tahu bahwa ia adalah orang berdosa tapi ada kerinduan untuk menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Dan karena perempuan ini sudah membuka hatinya, maka Yesus dengan lembut menjelaskan bahwa Ia adalah Mesias itu. Pengakuan Yesus (ayat 26); “Akulah Dia” sebenarnya berarti “Akulah Allah”. Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Mesias dan Dia adalah Allah. Ayat 27: Pada ayat ini diceritakan bahwa para murid Yesus datang dan  menjumpai Yesus sedang bercerita dengan perempuan samaria itu. Ketika mereka melihat bahwa gurunya sedang berbicara dengan perempuan samariaitu, mereka heran tetapi tidak berani untuk bertanya, Tidak diterangkan oleh Yohanes alasan mereka tidak bertanya kepada Tuhan atau kepada perempuan itu. Sampai perempuan itu pergi meninggalkan mereka, para murid itupun tidak ada yang bertanya. Ayat28-30: Karena perempuan itu sudah berbicara dengan Yesus, Ia pun merasa sudah sangat lega karena menemukan air hidupny. Kini dengan penuh semangat ia pergi meninggalkan Yesus dan juga tidak perduli lagi dengan tempayannya. Air jasmani  kini ditinggalkan karena ia sudah menemukan air hidup, sehingga dengan semangat ia pulang. Jikalau tadi ia datang dengan sembunyi-sembunyi dan menghindari orang sehingga ia pergi kesumur jam 12 siang, kini ia pulang dengan terang-terangan bahkan ia menjumpai orang untuk diajak menerima air hidup itu yaitu Firman Tuhan. Ia tidak peduli lagi dengan statusnya di desa sekitar itu sebagi perempuan yang bersuami lima, kini ia tanpa malu memanggil dan mengajak orang banyak untuk menjumpai Yesus.. Jika selama ini orang banyak menganggap dia sebagai orang berdosa yang harus dihindari, kini karena mereka sama-sama percaya, mereka tidak perduli dengan status social mereka. Mereka kini bersama-sama tanpa memandang status social mereka menjumpai Yesus. Inilah yang disebut percaya itu indah. Jika selama ini orang Yahudi hanya bermusuhan dan saling mencurigai dengan orang Samaria, kini mereka dipersatukan. Tembok pemisah itu kini hancur karena kepercayaan mereka akan Mesias yaitu Yesus Kristus Tuhan. Percaya itu indah bahkan sangat indah saat kita percaya kepada Tuhan tak ada lagi permusuhan diantara kita, tidak ada lagi orang yahudi, orang Yunani atau orang Batak, dan lain-lain. Yang ada adalah persekutuan yang indah dalam kristus Yesus .Karena itu saudara-saudara, sebagai orang yang percaya kepada Kristus marilah kita menikmatinya dalam kasih Kristus, Buanglah segala dendam yang masih tersimpan atau perasaan-perasaan superior atau inferior sebab kita satu dalam Kristus. Seperti yang dikatakan pemazmur dalam Maz 133:1-3, sungguh alangkah baik dan indahnya jika kita hidup bersama dengan rukun dan seterusnya…selamat hidup rukun..Tuhan Yesus memberkati

MATIUS  10 : 40-42 Thema :   “Sambutlah Dengan Kerendahan Hati”  

  MATIUS  10 : 40-42
Thema :   “Sambutlah Dengan Kerendahan Hati”  

Sudah pasti kita semua pernah melakukan penyambutan terhadap seseorang, seperti : tamu, orang penting, ataupun keluarga yang datang dari kampung. Tamu ataupun seseorang yang datang ke rumah kita, tentu kita perlakukan dengan baik, ; dipersilahkan masuk, duduk, minum/makan atau bahkan dipersilahkan menginap kalau sudah larut malam. Mungkin tidak ada diantara kita yang akan memperlakukan seorang tamu dengan tidak baik, kecuali tamu itu “tamu tidak diundang” alias maling.   Demikian juga dalam ayat yang baru kita dengar tadi dalam Matius 10 : 40-42, Ayat 40 ; “Barang siapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku” Kalimat dalam ayat ini ditujukan Yesus kepada murid2Nya yang sebelumnya telah diberikan tugas pengutusan untuk memberitakan Injil. Pesan ini diberikan Yesus kepada Murid2, adalah untuk menyemangati mereka agar melaksanakan tugas pengutusan dan tidak perlu kuatir dalam melaksanakan tugas pengutusan itu. Dalam tradisi,  orang Yahudi mempunyai kebiasaan baik dalam memperlakukan setiap orang yang singgah dirumah mereka. Sudah tentu mereka juga akan menyambut dan memperlakukan dengan baik para murid yang datang kerumah mereka. Yesus memberikan jaminan kepada murid2nya agar mereka tidak perlu takut atau pesimis dengan tugas yang akan mereka laksanakan. Dimasa kini, tugas murid Yesus sebagai pemberita Injil, adalah seperti Hamba Tuhan yang memberitakan Injil seperti Pendeta, Guru Injil dan Pelayan Tuhan lainnya yang sudah diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan Injil. Oleh karenanya, kita juga sebagai orang2 yang percaya harus menyambut Pelayan Tuhan pemberita Injil dengan baik. Menyambut disini berarti bukan hanya dalam arti sekedar sambutan tetapi juga menerima firman Tuhan yang mereka ajarkan.   Ayat 41 ; “Barangsiapa menyambut seorang nabi, ia akan menerima upah seorang nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Selain ditujukan kepada para murid dan pelayan Tuhan, ayat 41 ini ditujukan kepada orang2 yang bersedia menyambut para pemberita Injil, termasuk kita semua. Dikatakan mereka yang menyambut seorang nabi akan menerima upah seorang nabi. Apa yang dimaksud dengan upah seorang nabi ? Tentu kita semua ingat cerita tentang Nabi Elia dan Janda di Sarfat, (1 Raja2 17 : 7-24) yang mengisahkan tentang seorang Janda di Sarfat yang miskin, hanya mempunyai segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli2 tetapi membuat makanan untuk nabi Elia dan karena kepercayaannya akhirnya tepung dalam tempayannya dan minyak dalam buli2nya tidak habis2. Demikian juga ketika anaknya mati, Tuhan mengembalikan kembali nyawa anaknya, atas permintaan nabi Elia kepada Tuhan. Sudah jelas bahwa janda yang menyambut seorang nabi dirumahnya, menerima upah dari Tuhan, berupa bahan makanan yang tidak habisnya dan juga memperoleh kehidupan kembali anaknya atas seizin Tuhan.   Demikian juga dengan menyambut seorang benar, akan menerima upah orang benar. Mazmur 1 : 1-2 menjelaskan tentang ciri2 orang  benar : 1. Ia tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, artinya bahwa dia hanya bersandar kepada kebenaran Allah. Seperti dalam mengambil keputusan sering kita meminta pendapat dan nasehat dari orang yang salah, sehingga langkah kitapun salah, seperti ada yang pergi ke dukun, paranormal dll untuk meminta nasihat. Tuhan sangat tidak menyukai hal tersebut. Hendaknya kita selalu berkonsultasi dalam segala hal kepada Tuhan melalui doa2 kita.   2. Tidak berdiri di jalan orang berdosa, artinya tidak melakukan perbuatan2 dosa dan tidak berada ditempat2 yang mengundang dosa, tetapi melakukan yang baik dan berkenan kepada Tuhan.   3. Tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, Banyak pencemooh di sekeliling kita seperti orang2 yang mengejek dan melecehkan firman Tuhan, menganggap sia2 firman Tuhan. Ada juga orang yang senang mengkritik kotbah, mengkritik jemaat lain, dan apa saja. Memang mengkritik untuk membangun boleh dan baik kalau niatnya untuk perbaikan. Tetapi kalau sifat mengkritik selalu muncul dan bahkan firman Tuhan pun ikut dikritik, waspadalah jangan2 kita sudah menjadi pencemooh.   4. Suka membaca dan merenungkan firman Tuhan. Inilah sikap yang disukai oleh Tuhan, dan sudah seharusnya kita melakukannya setiap hari dengan seluruh anggota keluarga.   Itulah ciri2 orang benar menurut Alkitab, yang akan menerima upah sebagai orang benar  yang disebutkan dalam Mazmur 1 : 3; “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya akan berhasil.   Namun dalam aplikasi kehidupan kita, Yesus mengajak mulai mempraktekkan keramah tamahan penyambutan kita dalam tindakan yang paling sederhana, seperti dalam Ayat 42 : Barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya daripadanya. Seorang yang kecil dalam ayat ini diartikan dalam makna yang luas yaitu orang yang diremehkan di masyarakat atau orang yang tidak dianggap oleh masyarakat. Keramah tamahan dan penyambutan merupakan bagian penting dari pemberitaan Injil, dan hal itu dapat kita mulai dengan menyambut “orang-orang kecil” yang ada disekitar kita.  Artinya mempersiapkan diri dalam penyambutan pemberita Injil atau ikut ambil bagian dalam pemberitaan injil, dapat kita mulai dengan melakukan kebaikan2 sederhana terhadap orang2 kurang beruntung yang ada disekeliling kita. Mari merendahkan hati untuk melakukan kebaikan terhadap sesama yang tidak berdaya, karena itulah permulaan pelayanan kasih yang sebenarnya. Amin.  

Selasa, 15 Juli 2014

MY WAY

And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, I'll say it clear,
I'll state my case, of which I'm certain.

I've lived a life that's full.
I've traveled each and ev'ry highway;
But more, much more than this,
I did it my way.

Regrets, I've had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
But more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I'm sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

I've loved, I've laughed and cried.
I've had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that;
And may I say - not in a shy way,
"No, oh no not me,
I did it my way".

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -
And did it my way!